Surat Cinta
kuputuskan sesobek penghianatan yang cantik,
saat aku mesti tinggal untuk sebuah nafsu.
dengar dengusnya, seperti ombak yang keras
menghantam kekokohan. tapi halus bagai kebenaran.
biarlah kunikmati. kubasuh untuk kegelisahan
dan kesangsian atas cinta. tapi kesadaran
kadang lebih butuk, tapi suci. sebab atas nama ia
kulihat alangkah sombongnya kekecewaan.
Jakarta, 1998
Dorothea Rosa Herliany